Saturday, 6 June 2015

Citilink, Penerbangan Indonesia yg MEMUASKAN


    Siapa yang tidak kenal dengan Citilink, penerbangan Indonesia yang sangat nyaman. Pengalaman ketika saya ke Jakarta untuk mengikuti training dari pekerjaan saya. Saya berangkat dari Medan ke Jakarta dengan menggunakan penerbangan yang lain, saya lepas landas dari KNO.Saat lepas landas, pesawat sangat terasa naik, kemiringannya tinggi. Sehingga jantung sedikit berdebar. Maklum, itulah pertama kali saya naik pesawat. Hehehe.
   Ketika Landing di CGK Jakarta, saya pun merasakan pendaratan yg sedikit jantungan juga, karena turunnya pesawat lumayan ceoat, sehingga saat ban pesawat menyentuh bumi sangat terasa. Disitu saya terfikir, yah maklumlah baru 1 x naik, jadi belum terbiasa. hehehe.
    Setelah seminggu di Jakarta, saya pulang ke Medan dengan pesawat Citilink. Saya berangkat pagi. Disaat lepas landas, saya tidak tahu kalau roda sudah tidak menyentuh bumi lagi, saya intip ke bawah, ternyata kami sudah take off. Tidak terasa sama sekali. Karena ternyata Citilink mengutamakan kenyamanan, jadi lepas landasnya tidak langsung tinggi, melainkan perlahan. Di perjalanan terasa nyaman, begitu juga sampai mau landing. Ketika landing hal yang sangat nyaman juga saya rasakan, ketika ada pemberitahuan untuk bersiap-siap karena jarak mendarat sudah dekat, saya pun menyiapkan diri, seperti menguatkan safety belt, menegakkan kursi, dll. Pelan2 pesawat makin terbang rendah, rendah dan merendah. Tanpa saya sadar, ternyata ban pesawat kami sudah menyentuh bumi, saya sadarnya setelah terasa adanya pengereman. Luar biasa nyaman ini penerbangan :)
   Jadi andaikan saat dari Medan ke Jakarta itu aku naik pesawat Citilink, berarti tanpa ada perasaan jantungan yah, karena tidak terasa gitu kok. Walaupun itu penerbangan pertama :)
   Andai bisa terbang lagi bersama Citilink, aku akan menemuinya. Ingin berangkat ke rumah kakak yang ada di Batam dengan Citilink. Mudah2an dalam waktu dekat terwujud. Amiin :)

Mudahnya Pemesanan Via Aplikasi Traveloka
   Penerbangan pertama dan kedua saya yang ke Jakarta dan pulang ke Medan. Yang memesan tiket saya saat itu adalah karena HRD. Maklumlah saya disana kan masih training :) .
Pada bulan Mei 2015, saya ada tugas di Pekanbaru, jadi saya pesan lewat aplikasi traveloka untuk pergi ke Pekanbaru dan untuk pulang kembali ke Medan. Ternyata tidak susah, bahkan sangat gampang untuk memesan tiket melalui aplikasi Traveloka. cukup pilih kota asal, kota tujuan, tanggal, jumlah penumpang, kemudian klik Cari tiket. Secara default, tiket akan di urutkan berdasarkan harga termurah, dan kita juga bisa mengkostumisasikan sesuai yang kita inginkan.
    Saya pulang pergi naik pesawat dengan menggunakan aplikasi Traveloka. Sayangnya tidak ada pesawat Citilink kesana. Hanya ada 1 maskapai penerbangan kesana. Ya mau tidak mau :).
   berikut penerbangan saya yang sempat saya capture ketika pulang ke Medan. Kalau yg ke Medan saya tidak sempat capture, tapi ada bukti pdf nya yg saya printscreen supaya jadi gambar :)
gambar tiket dari Medan ke Pekanbaru


gambar screenshot pesan lewap aplikasi Traveloka
Pekanbaru ke Medan


gambar tiket dari Pekanbaru ke Medan

Wednesday, 25 February 2015

Android One - Android dengan Hardware ditentukan oleh Google


Android, siapa yang tidak kenal dengan OS Mobile yang satu ini. Benarkan teman-teman? Android adalah sistem operasi yang digunakan pada mayoritas smartphone dan tablet yang dipakai orang pada umumnya. Meskipun ada beberapa sistem operasi lainnya seperti iOS pada iPhone, sistem operasi Blackberry, Windows Mobile, dan lain-lain. Tetapi persentasi pemakaian sistem Operasi Android melebihi setengah alias lebih dari 50%. Kesuksesan Google itu tentunya didukung oleh brand-brand dengan hardware dan kualitas yang mumpuni tentunya.
Bicara tentang Android, tentunya banyak otang yang mengetahui banyaknya versi Android. Itu dikarenakan Android lebih cepat mengeluarkan update sistem operasi daripada sistem operasi lainnya. Beberapa contoh dari versi Android seperti Candy Bar, Eclair, Froyo, Ginger Bread, HoneyComb, Ice Cream Sandwitch, Jelly Bean, Kitkat, dan hingga saat tulisan ini saya buat versi terakhirnya adalah Lolipop. 
Tidak semua hardware pada smartphone kita dapat diupgrade ke sistem operasi yang lebih tinggi. Untuk mengetahui apakah smartpone kita layak di update atau tidak, kita bisa mencobanya melalui update program yang disediakan atau melalui website resmi brand yang kita punya.
Hal tersebut membuat Google membuat ide menyamakan hardware agar update nya bisa langsung kompatibel dengan hardware smartphone. Proyek pembuatan standar hardware ini dinamakan dengan nama "Android One". Brand smartphone yang memakai "Android One" adalah brand lokal di negaranya. Kalau di India, ada 3 brand lokal India di proyek "Android One". Begitu juga di Indonesia, ada 3 brand lokal yang bermain di proyek Google yang dinamakan "Android One" ini. Brand lokal yang masuk ke "Android One" ini adalah Nexian, Mito, dan Evercoss. Untuk smartphone Nexian diberi nama "Nexian Journey One", untuk smartphone Mito diberi nama "Mito Impact A10" dan untuk Evercoss diberi nama "Evercoss One X".

Untuk spek dari ketiga smartphone ini pasti sama teman-teman, karena sudah diberi standar dari Google. Spek yang sama yaitu processor, RAM, internal memory, lebar dan resolusi layar, kamera belakang dan depan, dan juga baterainya. Jadi yang membedakannya hanyalah desainnya.
Bagi yang ingin tahu spek nya secara terinci boleh search di mbah Google
Sekian dulu artikel mengenai artikel saya mengenai Android One ya teman-teman

Sunday, 27 May 2012

Revisi mobil SMK setelah gagal uji emisi



Tim teknisi yang melakukan perbaikan setelah mobil Esemka dinyatakan tak lolos uji emisi, masih terus bekerja.
Setelah mengutak-atik bagian mesin agar gas emisi yang dikeluarkan tak terlalu tinggi, tim fokus mengurangi berat badan Esemka. Sebab, berat badan berlebih dari mobil buatan siswa SMK ini diduga menjadi penghambat performa mesin.
Menurut Direktur PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) Sulistyo Rabono, kendaraan yang telah menjadi mobil dinas Wali Kota Solo Joko Widodo memiliki bobot 2.200 kilogram.
Berat badan yang mencapai dua ton lebih itu dinilai terlalu gemuk, karena berat ideal seharusnya 1,5 ton saja.
“Bobot standar mobil jenis SUV berkapasitas 1.500 cc adalah 1.400 kilogram. Jadi, Esemka masih terlalu gemuk dan perlu dikuruskan,” katanya, Sabtu (10/3/2012).
Akumulasi beban inilah yang menyebabkan kerja mesin lebih berat, sehingga performa menjadi tak maksimal. Menurut Sulistyo, tim saat ini masih mencari cara menurunkan beban bodi mobil yang overweight itu.
“Mobil Esemka tanpa penumpang jika dibandingkan dengan mobil sejenis, ibaratnya seperti mengangkut 20 penumpang. Jadi sangat berat,” imbuhnya.
Temuan tim teknisi, mobil Esemka kegemukan lantaran bodi luarnya terlalu tebal. Sesuai standar, seharusnya ketebalan plat bodi maksimal 0,8 milimeter. Sedangkan plat bodi mobil Esemka SUV Rajawali sekarang 1,2 milimeter.
“Bodi mobil handmade terlalu berat jika 1.500 cc. Dengan bobot saat ini, mesin akan bekerja baik jika pada posisi 2.700 cc. Sehingga, kami memilih melakukan rework dari sisi bodi,” beber Sulistyo.
Sejauh ini, ia bersama tim masih mencari mekanisme untuk mengurangi ketebalan bodi. Kemungkinan, pemangkasan bobot mobil meliputi penggantian plat bodi berdempul tipis.
Plat ini kemudian dipasang di bagian samping depan dan belakang. Untuk menyelesaikannya, diprediksi butuh waktu sekitar empat pekan. Meski dibuat kurus, hal itu tak akan mengubah tampilan fisik Esmeka.
Dukungan terhadap mobil Esemka agar lolos uji emisi terus mengalir dari berbagai pihak. Satu diantaranya adalah dari Gusrizal, Direktur Eksekutif Elemen for Indonesia.
Pria yang tinggal di Bukittinggi, Sumatera Barat datang ke Solo untuk menemui Jokowi. Tujuan utamanya, memesan Esemka.
“Saya mau pesan Esemka, tapi masih ditolak. Tak masalah, walau urutan 6.001, saya akan tetap menunggu,” tegasnya.
Kedatangan Jokowi ke Bukittinggi dalam beberapa waktu ke depan akan ia manfaatkan untuk mengajak pemerintah daerah melakukan kerja sama. Sebab, di Bukittinggi juga sangat berharap bisa meniru apa yang telah dilakukan oleh siswa SMK di Solo.
“Pak Jokowi akan kami jadikan motivator. Siswa di Bukittinggi sangat mendukung Esemka agar lolos jadi mobil nasional,” cetusnya.
sumber : tribunnews.com

Komentar Pak B.J. Habibie akan mobil SMK



 Mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie mengatakan, mobil Esemka tidak dibuat secara profesional. "Mobil Esemka itu cuma 'dolanan' (mainan), pembuatannya tidak profesional, masa anak-anak yang baru tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah mau jadi montir, ya pasti belum ada pengalaman," kata BJ Habibie usai talkshow "Merah Putih" di kediamannya, Patra Kuningan 13, Jakarta, Rabu (7/3).

Menurut Habibie, untuk bisa menciptakan sebuah industri otomotif diperlukan pengalaman serta riset yang cukup, tidak serba instan. "Untuk bisa masuk ke dalam industri otomotif dan bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar membutuhkan waktu yang panjang," kata Habibie.

Habibie mencurigai ada kepentingan politik di balik pemberitaan mobil Esemka. "Menurut saya, ada interest politik di balik semua ini. Oleh karena itu, saya sarankan media berhenti mengangkat topik ini, anggap sepi saja," kata Habibie.

Habibie menyarankan, membangkitkan industri otomotif di Tanah Air sebaiknya dimulai dengan membidik industri sepeda motor. "Indonesia ini adalah masyarakat terbesar yang memanfaatkan sepeda motor di bumi. Kenapa kita tidak mengembangkan itu saja, sediakan anggarannya, lakukan riset yang menyeluruh, saya rasa itu lebih rasional," kata Habibie.

Toh Habibie tetap memberi semangat pada generasi muda, terutama siswa Sekolah Menengah Kejuruan, yang berhasil membuat mobil Esemka. "Tidak ada sesuatu yang datang dengan percuma, semua harus dilakukan melalui perjuangan yang dibarengi dengan pengorbanan, kita tetap harus optimis terhadap masa depan bangsa," kata dia. (Ant/DOR)


Sumber : Metrotvnews.com

Keindahan fisik tidak menentukan keindahan batin





“Berapa harga seekor anak kucing?”
Pemilik toko menjawab, “Sekitar 30 sampai 50 Dollar.”
Anak itu berkata,
“Aku hanya mempunyai 23,5 Dollar. Bisakah aku melihat-lihat anak kucing itu?”
Pemilik toko tersenyum. Ia lalu bersiul. Tak lama kemudian muncullah lima ekor anak kucing sambil berlarian.
Tapi ada seekor yang tampak tertinggal di belakang.
Anak itu bertanya,
“Kenapa anak kucing itu?”
Pemilik toko menjelaskan bahwa anak kucing itu menderita cacat karena kelainan di pinggul saat lahir.
Anak lelaki itu tampak gembira dan berkata,
“Aku beli anak kucing itu.”
Pemilik toko menjawab, “Jangan, jangan beli anak kucing cacat itu, Nak. Jika kau ingin memilikinya, aku akan berikan saja untukmu.”
Anak itu kecewa.
Ia menatap pemilik toko itu dan berkata,
“Aku tak mau diberikan cuma-cuma. Meski cacat, harganya sama seperti anak kucing lainnya. Aku akan bayar penuh. Saat ini uangku 23,5 Dollar. Setiap hari aku akan mengangsur 0,5 Dollar sampai lunas.”
Tetapi lelaki itu menolak, “Nak, jangan beli anak kucing ini. Dia tidak bisa lari cepat, tidak bisa melompat & bermain seperti anak kucing lainnya.”
Anak itu terdiam. Lalu ia menarik ujung celana panjangnya. Dan tampaklah kaki yang cacat.
Ia menatap pemilik toko itu dan berkata,
“Tuan, aku pun tidak bisa berlari cepat. Akupun tidak bisa melompat-lompat dan bermain-main seperti anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu, bahwa anak kucing itu membutuhkan seseorang yg bisa mengerti penderitaannya.”
Pemilik toko itu terharu dan berkata,
“Aku akan berdoa setiap hari agar anak-anak kucing ini mempunyai majikan sebaik engkau.”
Nilai kemuliaan hidup bukanlah terletak pada status ataupun ke lebihan yang kita miliki,
melainkan pada apa yang kita lakukan berdasarkan pada Hati Nurani.
Yang mengerti dan menerima kekurangan.

“Keindahan fisik bukanlah jaminan keindahan batinnya”.

Monday, 25 April 2011

Sejarah Krisbow

Sebuah Fenomena Entrepreneurship

Dari satu toko kecil di kawasan Glodok warisan sang ayah, Kuncoro Wibowo dan adik-adiknya berhasil membangunnya menjadi kerajaan bisnis perkakas terkemuka di Asia Tenggara. Bagaimana usaha ini bisa meraksasa?

Alex Widjaja, pemilik toko di Kawasan Glodok, mengaku tak pernah membayangkan kalau salah satu keluarga pemilik toko alat pertukangan yang telah lama menjadi tetangganya bisa sukses memiliki perusahaan besar. Pasalnya, dulu toko milik Wong Jin (almarhum), tetangga dan temannya itu, tak lebih istimewa dari toko-toko lain di sana, termasuk toko Alex sendiri. Yang ia tahu, putra-putra Wong Jin memang rajin dan mau bersusah payah membantu ayahnya berdagang di toko. "Mereka anak-anak muda pekerja keras," tutur Alex yang tahun ini genap berusia 62 tahun. Alex mengaku ikut gembira dan takjub mengetahui putra-putra sobatnya itu kini telah berhasil membangun bisnis berskala besar dengan bendera Grup Kawan Lama (GKL). Ketakjubannya makin bertambah setelah diberitahukan bahwa gerai Ace Hardware dan Index yang mulai bertebaran di Jabotabek, ternyata juga milik keluarga kawan lamanya itu.


Boleh jadi, bukan hanya Alex yang cukup terkejut dengan perkembangan bisnis GKL, tapi juga sejumlah pedagang Glodok yang tokonya berdekatan dengan toko milik Wong Jin. Maklum, puluhan tahun lalu, bisnis keluarga ini bisa dibilang tak ada apa-apanya. Bayangkan. Tahun 1960-an, toko kecil yang berdagang perkakas teknik ini tak berbeda dari toko-toko sejenis lainnya di Glodok. Ukurannya hanya sekitar 3 x 3 meter, dan tampilan ruangannya sederhana, bahkan terkesan kusam dan gelap. Di toko itulah Wong Jin yang warga Tionghoa, selain mencari nafkah juga mengajarkan kepada anak-anaknya -- terutama anak lelaki tertuanya, Kuncoro Wibowo -- tentang bagaimana berdagang dan melayani pembeli, serta bagaimana bekerja keras dan belajar. Toko kecil itu sendiri sudah dibuka Wong Jin sejak tahun 1950.


Roda kehidupan memang berputar. Terbukti di tangan generasi kedua -- Kuncoro Wibowo dan adik-adiknya -- GKL menjelma menjadi perusahaan besar yang menguasai bisnis perdagangan perkakas di Indonesia. Produk yang dipasarkan tak kurang dari 20 kategori dan meliputi lebih dari 60 ribu item. Sekitar 90% produk yang dijual GKL ini merupakan produk impor yang diproduksi perusahaan perkakas besar dunia.


Keistimewaan GKL terutama karena mampu keluar dari kerumunan para pemain di bisnis distribusi produk perkakas dengan menunjukkan kelasnya sendiri. Bukan rahasia lagi, hampir semua pemain distribusi perkakas teknik di Indonesia adalah perusahaan kelas toko alias UKM yang banyak terdapat di bilangan Kota (Jakarta). Sulit menyebutkan bisnis mereka sebagai bisnis korporasi. GKL-lah yang paling sukses melewati kerumunan itu. ”Di Asia Tenggara, kalau Anda bandingkan dengan perusahaan distributor dan showroom perkakas lain, kamilah yang terbesar dan paling lengkap," ujar seorang eksekutif Kawan Lama. Tampaknya klaim sang eksekutif GKL itu tak berlebihan. Berbeda jauh dari para kompetitornya yang hampir semua masih menempati toko atau ruko, GKL sudah punya banyak gerai, showroom, dan kantor pusat sendiri yang cukup mentereng.


Di gedung yang dijadikan markas besarnya itu GKL membuka showroom untuk displai produk seluas 2.000 m2. Showroom dilengkapi dengan sistem katalog yang terkomputerisasi sehingga sangat memudahkan visualisasi produk ke calon pembeli. Kehadiran perangkat canggih itu juga memungkinkan simulasi dan testing produk bagi calon pembeli yang ingin menjajal produk. Showroom ini dikelola salah satu anak usaha GKL yang paling tua, yakni PT Kawan Lama Sejahtera, yang kini diperkuat sekitar 1.200 karyawan.


Yang tak kalah menarik, jumlah produk yang dipasarkan (termasuk yang diageni) GKL sekitar 130 merek. Hebatnya, GKL hanya mau mengageni merek-merek perkakas tiga besar (the big three) dunia. Malah, untuk mengageni merek yang punya pasar besar, GKL mendirikan perusahaan tersendiri (dedicated). Misalnya ada PT Indo Kompressigma untuk mengelola penjualan produk kompresor udara paling top di dunia dari Jerman bermerek Kaeser. Lalu, PT Miller Weldindo memasarkan mesin las asal Amerika Serikat bermerek Miller. Ada pula PT Kawan Lama Multiweldindo, pemegang lisensi pemasaran mesin las merek Saf (Prancis). Sementara PT Global Tools Indonesia memasarkan berbagai tool bermerek Facom (Prancis).


Ada lagi salah satu merek yang diageni GKL dan sekarang tengah naik daun, yakni Sensormatic. Produk untuk keamanan ini berbentuk scanner yang banyak dipakai kalangan pengelola gedung (hotel, mal, dan lainnya), khususnya untuk melakukan scanning terhadap kemungkinan pengunjung yang membawa bahan peledak. GKL memasarkan produk ini di bawah bendera PT Sensormatic Indonesia. ”Kami memasarkan produk-produk itu dengan pola joint venture dengan prinsipal,” ujar Kuncoro Wibowo, yang juga CEO GKL.


Selain merek-merek top itu masih ada puluhan merek lain yang diageni GKL. Pasalnya, GKL memang menyediakan aneka produk mulai dari perkakas pemotongan (cutting tool), pengeboran (drilling tool), alat-alat pengukuran dan presisi, perkakas keselamatan kerja, fastening tool, produk kimia (untuk adesif, cat, lubrikasi dan pembersih), lightening equipment, cleaning service, automotive service & testing equipment, kompresor, diesel, alarm, dan sebagainya. Pendeknya, barang dagangannya mulai dari obeng kecil hingga kompresor dan diesel yang besarnya memenuhi ruangan. ”Keunikan kami adalah one stop shopping concept. Jadi bila ada industri yang butuh alat-alat perkakas, kami menyediakannya," kata Kuncoro yang kini mempekerjakan 3 ribu orang di kelompok usahanya. Untuk memasarkan produk-produknya itu GKL mendirikan 9 cabang di berbagai kota.


Menyingkap perjalanan bisnis GKL memang amat menarik. Sebab, yang terurai kemudian adalah cerita kewirausahaan (entrepreneurship) yang penuh teladan. Boleh dibilang, di dalamnya banyak pelajaran tentang sebuah perjuangan bisnis, kerja keras, kedisplinan, semangat terus belajar. Kenyataannya, unsur-unsur inilah yang bisa membalikkan nasib dari nobody menjadi somebody yang terpandang. Itulah yang terjadi pada GKL, terutama setelah Kuncoro dan adik-adiknya menerima tongkat estafet pengelolaan toko yang didirikan sang ayah.


Kuncoro, anak keempat dari 9 bersaudara, sedari kecil memang sudah terbiasa bekerja keras -- dan masih dilakukannya hingga sekarang. Salah satu alasannya, dia ingin selalu melakukan sesuatu yang berbeda. “I want to be something different,” katanya menegaskan. “Saya kalau sudah punya keinginan, harus bisa diperoleh,” tambah Kuncoro berterus terang kepada tim SWA yang mewawancarainya. Pengusaha yang lebih suka tampil dengan potongan rambut cepak ini menceritakan, ketika masih SD, ia dan adik-adiknya sudah biasa membantu ayahnya bekerja di toko. Sepulang dari sekolah langsung menuju toko. Adik perempuannya biasanya berperan sebagai kasir, sedangkan Kuncoro dan dan adik-adik lelakinya ikut membantu melayani di toko. “Saya ingat kalau ke toko, tiap pagi bawa teko yang sudah diisi teh oleh ibu. Ketika makan siang, ibu mengirimkan rantang nasi yang zaman dulu masih pakai rantang rotan,” kenang kelahiran 1956 yang punya hobi mengoleksi korek api ini.


Bukan masa kuliah formal bertahun-tahun yang mengasah keterampilan bisnis Kuncoro, melainkan lebih karena tempaan kerja keras dan otodidak. Ia belajar sambil bekerja di lapangan, di toko kecil itu. “Prinsip saya learning by practicing. Apa yang salah terus diperbaiki. Dan, secara tidak sadar itu terus bergulir sampai kami bisa mandiri, sampai dilepas oleh ayah kami,” ujar Kuncoro yang memang hanya tamatan SLTA. Meski tak duduk di bangku kuliah, tak berarti Kuncoro tak suka belajar. Selain belajar dari tempaan pengalaman selama melayani pelanggan di toko, ia juga banyak mengambil kursus informal untuk mengasah wawasan bisnisnya. Tak ayal kematangan berbisnisnya pun cepat terbentuk.

Yang membuat GKL cepat melaju bisa dibilang karena kegigihan Kuncoro baik dalam menangkap peluang pasar, menggandeng prinsipal luar negeri, membimbing adik-adiknya, hingga membangun organisasi bisnis. Bukan rahasia lagi bagi kalangan karyawan GKL, jiwa dan semangat kewirausahaan Kuncoro memang terasa kental. Pengusaha yang selalu datang ke kantor pukul 08.00 dan pulang pukul 21.00 ini dikenal punya kepemimpinan (leadership) yang kuat, malah bisa dibilang cukup keras. “Mungkin semimiliter,” kata seorang manajer di GKL menilai. Contohnya, karyawan yang datang ke kantor telat, namanya akan muncul di layar monitor. GKL juga menegakkan aturan di kantor karyawan tak boleh baca koran atau majalah, melainkan hanya boleh bekerja. Sebenarnya bisa dipahami bila Kuncoro menerapkan gaya ini. Pasalnya, ia memimpin sebuah perusahaan penjualan yang memang menuntut disiplin tinggi dan kerja keras.

Sebelum menyuruh anak buahnya bekerja keras, Kuncoro sendiri sudah menjalankannya. Ketika berusia 17 tahun ayahnya sudah biasa melepas Kuncoro dan adiknya untuk menggulirkan usaha dagang keluarga sendiri. Misalnya untuk urusan pembelian, pengepakan dan pengiriman barang. Malahan di usia 17 tahun itu Kuncoro sudah pergi ke luar negeri sendiri guna mencari produk-produk perkakas yang potensial diageni. “Saya sudah sering pergi cari produk ke Singapura, Hong Kong dan Jepang. Ketika itu Cina belum terbuka,” kata Kuncoro seraya menjelaskan rata-rata para prinsipal yang mereknya diageni dari awal sampai sekarang, masih bertahan bermitra dengan GKL. Di tahun 1980-an itu, Kuncoro rajin mengembangkan hubungan dengan para prinsipal – termasuk mengunjungi pameran di mancanegara -- dan mulai mengageni produk-produk luar negeri. “Saya melihat kesempatan dan timing, waktu itu barang-barang bermerek dan berkualitas mulai bergerak di sini seiring dengan berkembangnya industri, seperti asembling mobil,” ungkap pria yang mengaku tiga bulan dalam setahun waktunya dihabiskan di luar negeri itu.


Kuncoro melihat perusahaannya bisa berkembang jauh lebih pesat dibanding para pesaing yang sekarang masih jualan di ruko-ruko, karena perbedaan cara berpikir dan adanya keinginan untuk maju. “Saya percaya dengan orang (people) dan selalu mengadaptasi teknologi baru,” Kuncoro mengungkapkan kiatnya. Ia memberi contoh perbedaan dalam mengembangkan bisnis. “Jika mereka memperoleh Rp 100, yang Rp 50 disimpan untuk properti atau investasi lain. Kalau kami tidak. Duit itu terus diputar sehingga seperti snow ball,” ungkapnya lagi. Selain itu, lanjut Kuncoro, pihaknya tergolong perusahaan lokal pertama yang berinisiatif mencari pasar. Ketika penjual lain lebih banyak menunggu pembeli datang ke toko, pihaknya memilih jemput bola. "Kami termasuk yang paling awal yang bisa melakukan penjualan dengan approach ke pabrikan," katanya bangga.


Dengan prinsip-prinsip itulah GKL terus berkembang. Bila awalnya hanya sebuah toko berukuran 3 x 3 meter di Glodok, di akhir tahun 1970 bisa pindah ke ruko yang lebih baik. Lalu, tahun 1985 bisa menambah gerai menjadi tiga ruko. Dan akhirnya, tahun 1997 bisa membangun gedung sendiri. Kini, boleh dibilang GKL dikelompokkan sebagai korporasi besar. Hanya saja, bagi kebanyakan orang awam, nama Kawan Lama memang tak sepopuler pemain di industri fast moving & consumer goods semisal Coca-Cola, Unilever, Grup Wings, Sosro, Ultrajaya, dan lainnya. Padahal, skala bisnisnya boleh dipertandingkan dengan mereka itu. Kurangnya popularitas ini karena memang bidang bisnis GKL yang lebih banyak menyasar ke pelanggan perusahaan, bukan pasar massal (mass market).

Di bidang pemasaran, GKL sukses melakukan berbagai transformasi. Di antaranya, berhasil mentransformasi dari sekadar penjual atau agen berbagai produk milik perusahaan lain menjadi perusahaan yang punya merek sendiri. Hal ini terlihat dari keberadaan merek Krisbow yang tak lain merupakan merek yang murni dimiliki dan dikembangkan oleh GKL. Didukung jaringan penjualan GKL yang kuat, kini Krisbow sangat sukses dan merupakan merek lokal terbesar di bisnis perkakas.


Di pasar kompresor misalnya, Krisbow mampu bersaing dekat dengan Kaeser yang merupakan market leader dunia. Merek Krisbow sendiri kini tak hanya dipakai untuk produk kompresor, tapi sudah diekstensi untuk 22 kategori produk yang meliputi lebih dari 4.500 item. Tak heran, kontribusi penjualan Krisbow terhadap GKL mencapai sekitar 10%. Langkah GKL meluncurkan merek sendiri ini merupakan terobosan (breakthrough) bagi pemain lokal. Pasalnya, di bisnis ini hampir 100% pemain lokal sebatas berperan sebagai agen atau distributor. Jadi, belum muncul kesadaran membangun merek sendiri.


Terobosan tak hanya dilakukan dalam bentuk pengembangan merek sendiri, tapi juga dalam strategi menjual dan melayani klien. KLS misalnya, tak lagi mengandalkan pendekatan penjualan konvensional, tetapi telah mengimplementasi pendekatan konsultasi. “Jadi, berangkatnya bukan kami punya barang dan silakan Anda beli, tapi lebih memberi solusi di antara kebutuhan pelanggan dan kemampuan pembelian. Sebab itu, tim sales kami selalu menanyakan ke calon pelanggan apa kebutuhannya dan berapa banyak dana yang dimiliki. Dari situ tim sales membantu memberikan solusi terbaik,” papar Tony Sartono, Direktur Pemasaran KLS.


Sebagai perusahaan pemasar perkakas, kini GKL juga mulai bertransformasi dari yang sebelumnya hanya fokus di bisnis B2B alias menyasar segmen korporat yang besar (big account), ke perusahaan yang juga gencar menggarap pasar ritel-massal. Hal ini bisa dibuktikan dari makin intensifnya GKL mengembangkan gerai ritel perkakasnya: mulai dari Ace Hardware, Index, Toko Krisbow Perkakas, Krisbow Tools Center, hingga Dunia Teknik.


Perkembangan jumlah gerai ritel yang menjadi andalan GKL untuk membidik pasar massal ini cukup bagus. Sebut saja Ace Hardware. Sebagaimana dijelaskan Rudy Hartono, Presdir PT Ace Hardware Indonesia, sejak diluncurkan 1995 pertumbuhan penjualan Ace Hardware minimal 25% per tahun. Jumlah gerai Ace Hardware pun terus bertambah. Sekarang mencapai 16 gerai, tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Ace Hardware menyediakan lebih dari 50 ribu jenis produk, terdiri dari 12 kategori (disebut departemen), mulai dari cat dan perlengkapannya, perkakas rumah, aksesori otomotif, lampu, perlengkapan mandi, kunci pintu, engsel dan handel pintu, perlengkapan rumah tangga, peralatan dan bahan berkebun, perlengkapan kemah dan barbeku, perlengkapan Natal dan hari-hari besar, hadiah, hingga furnitur.


Selain Ace Hardware, GKL juga mengembangkan Index Furnishing sejak 2004. Paulus Ong, Direktur Operasional PT Home Center Indonesia – pengelola Index – menjelaskan pihaknya kini terus gencar mengembangkan supermarket perabot rumah tangga (home furnishing) itu. Setidaknya GKL sudah punya tiga gerai, yakni di Puri Indah, Mal Artha Gading dan Mal Metropolitan Bekasi. Rencananya, sampai semester pertama 2006, akan buka dua gerai Index di Makassar dan Bandung.


Index merupakan waralaba furnitur dari Thailand, bukan asli merek ritel milik GKL. Sebenarnya, semula Kuncoro sempat akan membangun merek sendiri dengan pemasoknya para pengusaha furnitur lokal, tapi kalangan pengusaha lokal itu tak mau dengan alasan takut desain produknya malah dijiplak. Tak heran, Kuncoro kemudian memilih Index yang sudah sukses di Thailand. Alasan lainnya, konsep Index hampir sama dengan ritel Ace Hardware, hanya saja Index lebih mengarah ke produk perabot rumah tangga (home furnishing).


Keberadaan Ace Hardware dan Index menjadi bukti bahwa GKL telah mulai mentransformasi pemasarannya dari yang semula didominasi pola pemasaran B2B -- yang sangat mengandalkan manajemen big account -- menjadi model pemasaran B2C alias ritel. Yang lebih menarik, ternyata kehadiran dua jenis gerai GKL itu secara tak langsung telah mengedukasi konsumen perkakas di perkotaan bahwa berbelanja perabot dan perkakas tak harus berdesak-desakan atau kepanasan, melainkan bisa dilakukan di sebuah toko besar dengan suasana yang nyaman.


Dahulu, kalangan mapan perkotaan tak suka berbelanja sendiri untuk urusan perkakas dan lebih memilih mendelegasikan ke para pembantu atau tukang. Namun sekarang tak mengherankan, banyak para majikan (terutama dari kalangan muda) yang tak sungkan lagi berbelanja perabot atau perkakas sendiri. Kalangan ibu rumah tangga, misalnya, kini justru lebih suka datang sendiri ke Ace Hardware untuk membeli perkakas pemotong dahan, mesin pembersih lantai, peranti pengecatan, dan lain-lain. Boleh dibilang, GKL berhasil ikut membangun gaya hidup yang berhubungan dengan perkakas. Lihat saja, sekarang muncul hobi baru seperti berkebun ataupun ngebengkel.


Sebenarnya, selain Ace Hardware dan Index, GKL juga mengembangkan jenis gerai lain, yakni Krisbow Perkakas (KP) dan Krisbow Tools Center (KTC). Dua jenis gerai ini mulai diluncurkan 2003. Hanya saja, ragam produk yang dipajang memang tak selengkap di Ace Hardware karena memang fokus dengan merek Krisbow. Ruangannya pun tak seluas dan selengkap Ace Hardware. Namun, soal jaringannya jangan diremehkan, sudah ada 17 gerai (16 KP dan satu KTC). Lokasi gerai ini tersebar di Jakarta, Surabaya dan Bandung. Seorang eksekutif di GKL menyebutkan, tahun 2006 GKL punya target membuka 20 gerai baru (baik KP maupun KTC), dan tahun 2007 ditargetkan menambah 50 gerai baru. Perbedaan KP dan KTC sendiri terletak pada luas bangunan dan fokus usahanya. KP berkonsep lebih independen dengan varian produk yang lebih banyak dibanding KTC.


Pada Ace Hardware dan Index, GKL ingin mengembangkan sendiri dan tidak berencana mewaralabakan atau menggandeng investor lain. Sementara dalam membesarkan KP dan KTC, GKL malah membuka peluang kerja sama dengan investor yang berminat. Dari sejumlah KP dan KTC yang sudah berjalan, sebagian besar dimiliki oleh mitra investor. Cerdiknya, GKL tak mau asal cari mitra. Persyaratan yang ditetapkan untuk menjadi mitra pemilik KP dan KTC antara lain: memiliki lokasi strategis dengan luas bangunan minimal 150 m2; serta memiliki dana Rp 800 juta-1 miliar untuk KP, dan Rp 300-400 juta untuk KTC.


Sisi lain yang menarik dari GKL adalah strateginya untuk fokus. Lihat saja, meski GKL punya banyak anak usaha, semuanya masih masuk dalam kompetensi intinya, yakni penjualan perkakas. Hanya Index yang sedikit melebar, yakni penjualan furnitur. ”Memang produknya beda, tapi nature of business-nya masih sama,” kilah Kuncoro. Bahkan, GKL juga memilih fokus di distribusi saja, tidak di manufakturing.


Pilihan strategi ini rupanya tak diputuskan tanpa alasan. Tahun 1994 manajemen GKL melakukan benchmarking ke luar negeri untuk memutuskan apakah mau menggarap manufakturing atau distribusi/penjualan saja. Ternyata dari studi banding ke luar negeri Kuncoro mendapatkan jawaban bahwa model bisnis distribusi perkakas pun bisa survive dan membesar, sehingga akhirnya memutuskan fokus di distribusi saja. Itulah mengapa, meski punya merek sendiri (Krisbow), proses manufakturingnya dilakukan lewat outsourcing (toll manufacturing)


Yang pasti, kini hampir semua perusahaan besar di Indonesia menjadi pelanggan GKL untuk pengadaan perkakas. Sekadar menyebut klien-klien besarnya: Garuda Indonesia, Panarub Industry, perusahaan-perusahaan semen, perusahaan alat-alat berat, keramik, suku cadang, perusahaan asembling otomotif (Astra International, Indomobil, dan Kramayuda Tiga Berlian), pabrik elektronik, perusahaan pertambangan (PT Bukit Asam, PT Tambang Timah, KPC, Freeport Indonesia, Adaro, Aneka Tambang, Newmont, Gulf Resources) plus sederet perusahaan lainnya. Sebuah sumber juga menyebutkan, ketika Toyota Astra Motor hendak melakukan setting pabrik untuk memproduksi dan meluncurkan Innova dua tahun lalu, sebagian perkakas manufakturnya juga dipasok GKL. Disebutkan Kuncoro, pelanggannya hampir ada di semua sektor yang berbasis manufakturing. “Kami tak punya single customer yang mengontribusi lebih dari 3% sales kami,” Kuncoro berterus terang. Jumlah pelanggan GKL diperkirakan lebih dari 10 ribu. Selama ini orientasi pemasaran GKL hampir 70%-80% ke kalangan end user, bukan pedagang.


Mengenai kinerja anak-anak usaha GKL, Kuncoro mengaku optimistis. Selama ini tiga anak usaha yang pertumbuhannya paling pesat adalah KLS, Ace Hardware dan Index. Hanya saja belakangan ini perkembangan bisnis ritel (Ace Hardware, Index, Toko Krisbow) grup ini lebih cepat. Adapun kalau dilihat kontribusinya, 50% diperkirakan masih dari KLS. Sayang Kuncoro tak bersedia menyebutkan berapa omset grup usahanya saat ini. Namun, kalau mengacu pada perhitungan Pusat Data Bisnis Indonesia, setidaknya omset grup ini di kisaran Rp 1 triliun.


Darmadi Durianto, pengamat pemasaran, melihat langkah GKL bertransisi dari B2B ke B2C dengan mengembangkan jaringan ritel merupakan upaya mendekatkan diri ke kalangan konsumen akhir. “Mereka melakukan strategi forward integrated,” tuturnya. Darmadi menilai kalau langkah itu dikelola dengan baik, akan memperkuat posisinya di pasar. Selain itu pasti semakin memperkuat bargaining power di hadapan pemasok. Langkah ini juga menguntungkan karena semakin memungkinkan memperoleh margin lebih besar. Darmadi memberikan catatan, yang harus diperhitungkan adalah penentuan lokasi. “Kalau mereka bisa memilih lokasi yang baik dan pas, saya pikir peluangnya bagus,” ia menegaskan.


Dalam kaitannya dengan brand building, Darmadi menyarankan GKL untuk terus konsisten membangun awareness, meningkatkan kualitas layanan, membuat program loyalitas dan terus-menerus membangun citra. “Kalau berhenti, mereka cuma sekadar buka kemudian jual, buka kemudian jual, saya pikir lama-kelamaan juga akan jatuh,” tandasnya. Catatan kritisnya, ia melihat GKL masih kurang dalam melakukan emotional bonding ke konsumen. Artinya, “Brand building belum mereka lakukan secara optimal.”


Pengamat pemasaran lainnya, Kafi Kurnia dari Peka Consulting, melihat sukses GKL sebenarnya lebih karena hoki saja. “Kebetulan ia masuk ke bisnis yang belum dilirik orang,” tandas Kafi, yang melihat di Indonesia pemain di kategori ini memang sangat kurang dan cenderung masih tertutup. Penyebab awalnya, menurut Kafi, para pebisnis tidak melihat bidang ini sebagai mainstream.


Kafi berpendapat, bila ada pengusaha yang ingin menyaingi GKL saat ini, sudah tergolong telat. Alasannya, jaringan GKL sudah begitu luas. Toh, bukan berarti dapat disimpulkan kalau GKL sudah sukses. “Itu belum tentu! Seperti Ace Hardware, kita hanya bisa melihat ekspansi gerainya di mana-mana dengan areanya yang cukup luas. Tapi apakah penjualannya bagus atau tidak, sejauh ini kita tidak dapat menyimpulkan bahwa Ace Hardware sukses di pasar. Belum ada benchmark bagi Ace Hardware hingga saat ini,” Kafi menyimpulkan. Implikasinya, lanjut Kafi, meski harga barangnya mahal dan servisnya tak bagus pun, orang tetap akan mengunjungi karena tak ada alternatif lain. “Ace Hardware kini menari sendirian,” ujarnya.


Kalau begitu, akankah mereka sukses? Kafi tak bisa memastikan, sebab di bisnis ritel perkakas ini belum ada benchmark, tak seperti ritel umum. Kendati demikian, Kafi mengakui, GKL dengan Ace Hardwarenya tetap merupakan fenomena. Sebab, dulunya tak ada tapi langsung bisa melebarkan sayap ke mana-mana. “Tapi kita tidak dapat memprediksi seberapa lama mereka bisa bertahan karena mereka tidak punya pesaing,” kata Kafi.


Apa pun penilaian orang, Kuncoro sendiri tetap melihat prospek bisnisnya cukup cerah. Namun ke depan ia sudah berpikir untuk menyerahkan kepemimpinan pengelolaan bisnisnya kepada orang lain (profesional). “Saya mulai tired. Saya cukup capek dan sudah waktunya menikmati hidup yang pendek ini. Saya harus sudah menyiapkan generasi baru,” ujar Kuncoro jujur. Ia berhitung, mungkin saja pengalamannya tidak lagi aplikatif di masa mendatang. “Ini seperti ombak, yang belakang sudah menggulung ke depan,” katanya bertamsil.


Dalam benak Kuncoro sekarang ini, ia hanya ingin memastikan perusahaannya tetap eksis di pasar meski ia bukan leader-nya lagi. “One day, mungkin kami akan IPO sehingga kepemilikannya tak hanya dipegang keluarga. Kalau kita melihat sejarah, bukankah sebuah empire tidak bisa (bertahan) lebih dari tiga keturunan,” Kuncoro menjelaskan. Soal IPO, ia menilai sebenarnya bisa dilakukan kapan pun karena secara internal sudah siap. Demikian juga secara administratif. “Tapi sejauh ini kami belum butuh dana dari luar untuk pengembangan bisnis. Biarkan jalan apa adanya dulu,” katanya. Sikap prudent seperti ini agaknya merupakan kelebihan bisnis GKL lainnya.



Reportase: Eddy D. Iskandar, A. Mohamad B.S., Siti Ruslina, Abraham Susanto, Tutut W. Handayani, Herning Banirestu, Dedi Humaedi. Riset: Asep Rohimat.



BOKS


Krisbow:

Merek Lokal yang Berkibar Tanpa Pabrik



Di bisnis perkakas di Indonesia, Krisbow bukanlah nama asing. Brand awareness-nya di kalangan pengguna perkakas cukup kuat. Begitu pula, penguasaan pasarnya di pasar perkakas di Tanah Air. Di segmen kompresor, misalnya, Krisbow adalah merek yang sangat populer dan bersaing ketat dengan produk kompresor buatan Jerman, Kaeser. Merek lokal ini banyak dikenal orang melalui sejumlah produknya yang didistribusikan secara massal di berbagai ritel perkakas dan hypermarket/supermarket. Merek ini pun dipakai untuk beragam jenis produk, antara lain kompresor berukuran besar (dipakai bengkel dan pabrik besar), brankas, pompa, gunting dan alarm.


Kelahiran merek Krisbow dipicu idealisme melahirkan produk alternatif sebagai solusi saat krisis moneter beberapa tahun lalu. Seperti dijelaskan Kuncoro Wibowo, CEO Grup Kawan Lama, sebenarnya sebelum krisis GKL selalu memegang teguh kebijakan bahwa pihaknya hanya mau mendistribusikan atau menjadi agen produk-produk perkakas top 3 di dunia. Itu memang positioning GKL, sehingga hanya merek-merek ternama dunia yang diageni. “Namun setelah krisis 1997, pasar perkakas juga mengalami kontraksi,” kata Kuncoro. Daya beli kalangan industri yang selama ini menjadi target pasar GKL mengalami penurunan. Kebanyakan industri lebih realistis dan memilih back to basic dalam membeli barang. Yang penting buat mereka, barang bisa dipakai dan harganya pantas. Tak aneh, mereka enggan membeli merek-merek kelas dunia yang harganya makin mahal saat krisis.


Celah itulah yang dilihat manajemen GKL sehingga meluncurkan Krisbow sebagai merek perkakas kelas menengah yang diposisikan sebagai substitusi merek asing yang makin mahal. Harga produk-produk Krisbow 30%-40% lebih murah dari merek-merk besar dunia. GKL tak sulit meluncurkan merek Krisbow meski tak punya pabrik perkakas sendiri. Pasalnya, dengan jam terbang cukup panjang di bisnis ini, GKL cukup tahu siapa saja pabrikan perkakas di dunia yang bisa dipesan untuk membuatkan produk (toll manufacturing). Apalagi, di industri perkakas hampir tak ada single manufacturer yang memproduksi hanya satu merek milik sendiri. “Tidak perlu memiliki pabrik sendiri. Kami anggap dunia adalah pabrik kami. Kami ambil barang jadinya lalu dikemas dengan brand sendiri,” ujar Kuncoro.


Merek Krisbow diluncurkan pada 1998. Asal-usul nama Krisbow sendiri bagi kalangan internal GKL bukan rahasia lagi, karena merupakan penggalan nama salah seorang adik Kuncoro, yakni Krisnadi Wibowo.


Kini Krisbow termasuk segelintir merek lokal asli yang cukup mapan di industrinya. Maklum, di bisnis perkakas industri seperti yang digeluti GKL, kebanyakan pemain adalah merek asing. Maklum, di industri ini dibutuhkan pengetahuan teknologi manufaktur yang lebih maju -- hal yang sering jadi menjadi kendala buat kebanyakan pemain lokal. Industri ini memang amat berbeda dari industri food & beverage, misalnya, yang jumlah merek lokalnya lumayan banyak.


Produk yang dipasarkan PT Kawan Lama Sejahtera (KLS) dengan merek Krisbow tak kurang dari 4.500 item, yang terdiri dari 22 kategori produk. Target pasarnya, pelaku industri dan kalangan pehobi. Manajemen KLS bisa memasarkan produk sebanyak itu karena menggandeng banyak pabrik di luar negeri sebagai mitra toll manufacturing. Pabrik yang digandeng rata-rata bukan pemasok/prinsipal yang produknya diageni KLS sebelumnya. Jadi, mereka betul-betul mitra baru. Ada yang dari Jepang, Taiwan, Korea dan Cina. KLS juga akan menggandeng pabrikan di India dan Vietnam.


Manajemen KLS tak memosisikan Krisbow sebagai produk yang berkualitas lebih rendah dibanding produk asing yang dijajakannya, melainkan sebagai merek kedua. Target pasar yang dituju memang bukan perusahaan multinasional, melainkan perusahaan lokal yang mementingkan aspek value for money. “Krisbow tak menggantikan merek-merek yang ada, tapi sebagai merek tambahan dari yang sudah ada,” kata Kuncoro menjelaskan. Yang pasti, produk-produk Krisbow telah dipasarkan ke Malaysia dan Singapura sejak tahun lalu.



Sudarmadi


Kepiawaian Kawan Lama Sebagai Sales Company

Boleh dibilang, berkembangnya bisnis Grup Kawan Lama (GKL) terutama karena kemampuannya mengelola tim penjualan. Tak percaya? Lihat saja, membesarnya bisnis GKL pada mulanya disebabkan oleh sukses PT Kawan Lama Sejahtera (KLS), perusahaan yang mampu menunjukkan jati dirinya sebagai sales company. Di KLS, ujung tombak bisnisnya adalah armada penjualan -- yang di Jakarta saja diperkuat 300-400 orang.


Menjadi kelompok usaha besar dengan berbasis kekuatan tim penjualan seperti itu tentu tak gampang. Bukan rahasia lagi, di kebanyakan perusahaan distribusi atau keagenan, tingkat erosi (attrition) tenaga penjual tergolong tinggi, bahkan mungkin paling tinggi dibanding jenis industri lain. Maklum, biasanya bila ada satu atau beberapa wiraniaga (salesman) yang berkinerja hebat, mereka tak mau bertahan lama di satu perusahaan. Tak jarang mereka dibajak oleh perusahaan kompetitor. Akan tetapi, ada pula yang memilih mendirikan perusahaan sejenis sendiri. Maka tidaklah mengherankan, sedikit sekali perusahaan keagenan yang bisa memiliki tim penjualan yang diperkuat lebih dari 50 orang. Karena alasan itu pula, skala usaha keagenan jarang sekali yang bisa menggurita. Paling banter, hanya menjadi perusahaan skala menengah.


Kawan Lama memang sebuah pengecualian. Skala bisnisnya terus tumbuh, begitu pula dengan pasukan penjualannya. Itulah sebabnya, manajemen tim penjualannya memang patut diacungi jempol. Ini bisa terjadi lantaran fungsi divisionalisasi dijalankan secara cukup baik, sehingga memungkinkan langkah intensifikasi pemasaran. Di KLS berbagai bidang industri yang menjadi target pasar digarap oleh tim yang berbeda. Terdapat tim yang khusus menggarap masing-masing sektor, seperti pabrikan otomotif, perbengkelan, pertambangan, perkebunan, manufaktur garmen, tekstil, kimia, furnitur, dan lain-lain. Masing-masing tim ini dipimpin oleh seorang manajer atau general manager, tergantung pada skala pasar yang ditargetkan.


Divisionalisasi berdasarkan wilayah (by region) juga berjalan rapi. Jelasnya, ada tim yang bertugas menjual produk tertentu di wilayah tertentu. Dengan cara itu, kecil kemungkinan ada pasar yang terlewatkan. SWA sempat mewawancarai beberapa sales engineer (SE) dan sales manager KLS. Misalnya, ada SE yang ditugaskan menangani produk suku cadang otomotif di kawasan tertentu, di Bekasi saja, atau di Tangerang saja. Dengan kata lain, wilayah operasional tiap area penjualan memang dibatasi secara ketat.


Rinto, SE yang baru bekerja setahun di KLS, mengaku diberi target penjualan Rp 600 juta dalam waktu 6 bulan. Selama ini Rinto mengaku mampu memenuhi target itu. Namun sebenarnya besaran target tiap orang berbeda-beda. Kalau tiap SE diberi target individu, sementara supervisor ke atas diberi target tim. Besarnya target didasarkan pada kesanggupan sang SE sendiri. gDi KLS tiap 6 bulan dibuat perjanjian target penjualan berdasarkan kesepakatan dengan tenaga sales. Jika tidak mampu memenuhi, tenaga sales itu bisa mengundurkan diri,h ungkap Rinto.


KLS memang serius membangun tim penjualannya. Berbagai jenis pelatihan diberikan buat mereka. Setiap produk baru diluncurkan pasti dibarengi dengan pelatihan yang cukup, supaya si wiraniaga tahu cara penggunaan produk, perawatan dan keunggulannya. Lalu, tiap hari Sabtu di minggu pertama, diselenggarakan seminar yang terkait dengan pengetahuan produk-produk KLS.


Manajemen KLS membagi tim penjualannya dalam empat jenis, yakni SE produk, SE area, SE konter, dan SE proyek. SE produk mengkhususkan diri menjual lini produk tertentu (misalnya merek Krisbow saja atau Kaeser saja) dan biasanya mereka tak dibatasi wilayah operasionalnya. Sementara SE area tak dibatasi jenis produk yang harus dijual, tapi areanya dibatasi. Adapun SE konter bertugas menunggu pembeli di konter kantor pusat atau showroom -- alias melayani calon konsumen yang datang. Dan, SE proyek dikhususkan untuk mengikuti tender proyek-proyek yang digelar baik BUMN maupun pemerintah.


Boleh jadi, mengingat beban target masing-masing tenaga penjual tak bisa dibilang enteng, manajemen KLS melengkapi fasilitas untuk tim penjualan ini dengan cukup baik. Boy, seorang supervisor di KLS menjelaskan, hampir tiap wiraniaga diberikan mobil dinas. Untuk level supervisor mendapat Daihatsu Xenia, sedangkan di level SE mendapat Suzuki Katana. Tentu saja tak semua mendapatkan fasilitas mobil dinas, karena ada persyaratan prestasi tertentu. Selain fasilitas mobil dinas, juga diberikan fasilitas penggantian pulsa bagi mereka yang berhasil memenuhi target.


Rupanya masih ada pula insentif lain. Boy, misalnya, berkat prestasi penjualannya tahun lalu memperoleh hadiah TV LG 21 inci. Namun untuk tahun ini hadiah jalan-jalan ke Pathaya Thailand terpaksa direlakannya karena digondol wiraniaga lain. Di luar itu, KLS juga menyediakan tunjangan standar seperti asuransi kesehatan. Adapun insentif berupa komisi, disebutkan Boy, di bawah 5% dari penjualan. Bonus komisi diberikan dalam kurun 6 bulan. Yang jelas, untuk merangsang prestasi di antara tim penjualan selalu diadakan kompetisi baik antarindividu maupun antarcabang. Tentunya tak sedikit tenaga penjualan yang gagal mencapai target sehingga harus terlempar dan keluar. Bisa jadi, ada juga wiraniaga hebat yang hengkang ke perusahaan lain. Toh, secara umum bisa dibilang KLS mampu mengelola tingkat turnover tenaga penjualannya, sehingga soliditas tim penjualan terpelihara dan pertumbuhan perusahaan tetap terjaga.



Sudarmadi dan Eddy D. Iskandar.



Gaya Kepemimpinan di Kawan Lama:

dari Antre Makan sampai Rajin Seminar



Di Gedung Kawan lama, semua ruangan termasuk ruang direksi, dibuat terbuka tanpa sekat. Mirip ruangan kelas. Meja presdir berhadapan dengan meja karyawan. Memang, top management Grup Kawan Lama (GKL) tak memiliki ruangan tersendiri. Ruang-ruang khusus hanya untuk ruang pertemuan atau ruang tamu, yang letaknya di tengah-tengah dengan sekat berupa kaca transparan. Sekilas, desain interior kantor ini mirip desain kantor perusahaan multinasional asal Jepang.


Di GKL berlaku peraturan yang mengharamkan koran atau majalah di atas meja kerja. Karyawan tak boleh membaca atau membawa bacaan ke dalam kantor. Ketentuan ini mengikat bagi hampir semua orang, termasuk jajaran direksi dan pemilik perusahaan. Satu-satunya orang yang diperbolehkan membaca dan berlangganan koran-majalah hanya Jani Soemarto, Manajer Promosi dan Iklan KLS – karena memang terkait dengan bidang kerjanya. Juga, hanya orang atau bagian tertentu yang diberikan hak akses Internet dengan alasan untuk menghindarkan karyawan melakukan hal-hal yang tak perlu.


Manajemen GKL dikenal disiplin dalam menerapkan peraturan. Tak heran seorang karyawan menyebutnya gaya semimiliter. Toh, menurut beberapa sumber internal, manajemen memang sangat konsisten. Contoh sederhana, jam masuk kerja di GKL mulai pukul 8.00 dan sama sekali tak boleh terlambat masuk, apa pun alasannya. Jika terlambat, orang yang bersangkutan akan terkena sanksi dan namanya akan diketahui semua orang karena tercatat di monitor TV yang ada di setiap ruangan kantor. Begitu pula dalam kaitannya dengan pencapaian prestasi (bagus atau jelek). Kuncoro sendiri mematuhi aturan ini dengan datang sebelum pukul 08.00 dan baru pulang pukul 21.00.


Walaupun menerapkan disiplin sangat ketat, uniknya kebanyakan karyawan betah. Ini terlihat dari tingkat turnover karyawan yang kecil dan banyak profesional yang masa kerjanya sudah cukup lama. Sebagai contoh, di level staf umumnya masa kerja mereka di atas lima tahun. Seorang staf bagian umum, rata-rata sudah bekerja selama 9 tahun, sedangkan level manajer ke atas, rata-rata masa kerjanya sudah belasan hingga puluhan tahun. Sebagai contoh Rudy Hartono (Direktur PT Ace Hardware Indonesia) dan Tony Sartono (Direktur Pemasaran PT Kawan Lama Sejahtera) punya masa kerja di atas 20 tahun.


Menariknya lagi, untuk mengingatkan visi, cita-cita atau filosofi perusahaan, di setiap lantai di Gedung Kawan Lama selalu ada tulisan filosofis atau ungkapan kata-kata bijak dalam bahasa Inggris. Menurut Kuncoro, semua tulisan itu sebagai hasil renungan, pemikiran atau dari bacaan. Sebagai contoh, ketika pintu lift terbuka di dinding depannya terbaca tulisan: “To improve is to change. To be perfect is to change. Often.”


Bukan berarti tak ada nuansa rileks. Soalnya di gedung itu juga disediakan kafe untuk para karyawan, termasuk direksi. Berbeda dari kafe di perusahaan lain, makan-minum di sini gratis. Tentu saja, menunya sudah ditentukan para juru masak. Ketika mau makan, baik karyawan maupun direksi, harus antre. Dan, selesai makan, jangan sekali-kali meninggalkan piring bekas atau kotoran di meja. Harus membawa dan menyerahkannya sendiri ke bagian pencucian piring/dapur. Ketentuan ini berlaku bagi semua orang yang makan di kafe itu.


Hal menarik lainnya, meskipun perusahaan keluarga ini terus membesar, suasananya tetap harmonis. Perlu diketahui, dari ke-9 anak Wong Jin, hanya 6 orang yang terlibat di KLG (tiga anak perempuan pertama ikut bersama suaminya). Kuncoro Wibowo, sebagai anak lelaki tertua mewarisi kepemimpinan bisnis – ini sesuai dengan budaya keluarga Cina. Sebagai anak lelaki tertua sekaligus chairman, Kuncoro memang punya pengaruh paling kuat dalam pembentukan budaya perusahaan. Adik-adik Kuncoro yang ikut mengembangkan GKL adalah Ijek Widyakrisnadi, Thersa, Prabowo Widyakrisnadi, Thasya dan Tharisa.


Menurut Kuncoro, masing-masing adiknya itu memiliki peranan cukup besar di bidangnya. Adapun ia sendiri lebih banyak mengurusi pengembangan produk, bisnis dan SDM. Adik-adik perempuan, bersama Mutia, istri Kuncoro, bertugas di bidang keuangan dan pembelian. Prabowo memegang Ace Hardware dan Index. Sementara Ijek Widyakrisnadi menangani Depo Teknik dan urusan dengan para dealer. “Jadi bagi-bagi kerjaan,” ujar pengoleksi korek api ini.


Dalam penilaian Paulus Ong, Direktur Index Furnishing, ketiga anak lelaki Wong Jin -- Kuncoro, Ijek dan Prabowo -- memiliki karakter dan keahlian berbeda. Kuncoro, menurutnya, sebenarnya bukan seorang temperamental, tapi memang suka bicara terus terang, tanpa tedeng aling-aling. Tegas dan detail. “Pak Kuncoro kalau bicara terus terang, tanpa basa-basi, tetapi setelah itu persoalannya beres. Pak Kuncoro sangat jenius di bidangnya,” ungkapnya. Sementara karakter yang cukup menonjol dari Ijek, lanjut Paulus, sangat praktis dan rada nyentrik, mirip seniman. Adapun Prabowo, dinilainya berpembawaan kalem, prosedural dan ahli dalam manajemen.


Rudy Hartono, Presdir Ace Hardware, punya penilaian tersendiri. Menurutnya, Kuncoro di GKL merupakan sosok sentral dan powerful. “Pak Kuncoro sangat disegani adik-adiknya. Boleh jadi, selain paling tua dan berpengalaman, beliaulah yang running all the companies. Segalanya terpusat ke beliau,” tambahnya. Kuncoro yang memegang komando untuk semua grup, dinilainya sangat perfeksionis dan responsif. Kuncoro juga menerapkan profesionalisme yang ketat di bidang bisnis. Contohnya, Rudy yang juga membawahkan istri dan tiga adik Kuncoro, suatu saat pernah dinasihati Kuncoro. “Kalau mereka tidak benar, diomelin saja,” kata Rudy menirukan.


Menambahkan penilaian tadi, Paulus melihat Kuncoro memiliki kemampuan dalam melihat peluang. “Beliau kalau menghitung cepat sekali, mungkin matematikanya jenius,” puji Paulus, yang mengaku sering terlibat diskusi bisnis dengan bosnya itu. Secara keseluruhan, Paulus menilai gaya kepemimpinan Kuncoro cukup sederhana. Yakni menggabungkan cara-cara memaksimalkan perhatian ke SDM -- memberikan balas budi yang baik kepada orang-orang yang berjasa pada perusahaan. Lalu sistem organisasinya sangat transparan dan flat -- bukan model piramida. “The leader is central dari segala macam kebutuhan dan dukungan. Namun everybody is the same, tidak ada yang merasa lebih tinggi. Kalau salah harus ditegur dan kalau berprestasi harus diapresiasi,” kata Paulus merumuskan prinsip kepemimpinan di grup perusahaannya. Ia juga melihat masing-masing anak Wong Jin sebagai generasi kedua punya karakter dan gaya kepemimpinan berbeda. “Yang pasti, mereka berhasil membuat perusahaan keluarga sebagai perusahaan yang sangat profesional,” katanya memuji lagi.


Sudhamek Agung W.S., bos Grup Garudafood mengakui cukup mengenal dekat Kuncoro. Perkenalan pertama dengan Kuncoro di awal 1999 saat pendirian Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI). Secara pribadi Sudhamek melihat Kuncoro sebagai seorang altruistis – ingin menyenangkan orang lain. Kuncoro dinilainya tidak “kering” dalam menjalani kehidupannya sebagai warga Tionghoa. “Artinya tidak business minded alias cari uang semata, tapi turut meluangkan waktu untuk aktivitas sosial,” ujarnya.


Kesan mendalam Sudhamek terhadap Kuncoro dalam hal kebijaksanaannya. “Top of mind dari saya tentang Kuncoro itu bijak. Dia hangat dalam bergaul dan murah senyum, sehingga pergaulannya luas dan banyak disukai orang,” ucapnya. Sementara keunikan Kuncoro di mata Sudhamek, lantaran body language Kuncoro seperti tak menyadari bahwa dirinya orang sukses, orang kaya. “Lihat saja gaya rambutnya seperti orang yang tidak peduli pada dirinya sendiri. Rambutnya dipotong gaya cepak seperti tentara. Itu karena Kuncoro orangnya sederhana dan lebih memperhatikan orang lain, sehingga kurang memperhatikan (penampilan) dirinya,” kata Sudhamek.


Mengenai sosok Ijek, Sudhamek melihatnya lebih berperan di sisi operasional perusahaan. “Perannya penting karena dirinya bisa mengemudikan KLS sehari-hari dengan baik,” katanya. Ditambahkannya, Ijek itu lebih merupakan man of action, sementara Kuncoro adalah man of concept and idea. Dari sisi entrepreneurship, Kuncoro dinilainya memiliki kejelian melihat peluang, keberanian menangkap peluang, dan kemampuan mewujudkan peluang itu menjadi bisnis. Salah satu buktinya, di masa krisis Kuncoro dengan jitu bermanuver dengan melirik produk dari negara lain yang berkualitas sama tapi dengan harga lebih rendah.


Sementara itu, Haris Chandra, pengusaha elektronik teman dekat Kuncoro, menilai sosok Kuncoro sebagai seorang pebisnis sejati. Ia mengenal Kuncoro sejak tahun 1995, sebelum bos GKL itu pindah ke gedung mewahnya yang sekarang. Haris masih ingat, ia pertama kali bertemu Kuncoro saat berkunjung ke Jepang untuk mempelajari bisnis ritel. Keberangkatannya itu bersama dengan sejumlah pengusaha lainnya difasilitasi oleh Hary Darmawan, pendiri Matahari Department Store. Meski 10 tahun lebih telah berlalu, Haris mengaku masih dekat dengan Kuncoro. Pasalnya, Kuncoro cukup aktif dalam berbagai organisasi sosial dan kekerabatan. Misalnya, Kuncoro pernah menjadi bendahara umum di Perhimpunan INTI.


Satu hal yang dirasa Haris menjadi kunci penting kewirausahaan Kuncoro adalah kemauannya untuk terus belajar. “Sering kali saat saya telepon dia menjawab sedang seminar atau melihat-lihat pameran di luar negeri. Padahal kegiatan seperti itu bisa diserahkan ke karyawan,” ujar Haris yang juga distributor produk elektronik merek Ariston.


Dalam pandangan Haris, Kuncoro berhasil menciptakan volume perdagangan perkakas yang besar. Belum lagi keberhasilannya dalam mengubah cara dan kebiasaan masyarakat berbelanja perkakas. “Dulu kan belanja perkakas mesti berdesakan di Glodok. Dialah yang pertama membawa suasana mal dalam belanja perkakas,” tuturnya.



Sudarmadi/A. Mohamad B.S., Eddy D. Iskandar.




Berkat TI,

Terintegrasi dari Hulu ke Hilir



Perusahaan mana pun yang membidangi distribusi, kalau mau efisien dan lincah bergerak, pasti membutuhkan dukungan teknologi informasi (TI). Apalagi, kalau skala bisnisnya sudah menggurita seperti Grup Kawan Lama. Di kelompok usaha ini, seperti diungkapkan Paulus Irawan, Direktur TI GKL, TI memang mengambil peran cukup signifikan dalam menunjang kegiatan perusahaan, khususnya distribusi produk dan aktivitas pemasaran lainnya. “Dengan dukungan TI, Divisi Sales kami dapat bergerak lebih cepat dan lincah,” ujarnya.


Selama ini seluruh proses perencanaan penjualan, pengadaan stok, proses penjualan hingga pengiriman barang di GKL dilakukan dengan sistem yang terintegrasi antara satu dan yang lain. “Hasil dari aktivitas proses ini,” kata Paulus, “dapat dimonitor dan dianalisis melalui suatu prosedur yang simpel dengan memanfaatkan laporan-laporan yang simpel pula.”


Ia mengungkapkan, di GKL Divisi TI tidak diposisikan sebagai tim pendukung, melainkan terlibat dalam operasi. Alasannya, jika tim TI hanya diposisikan sebagai pendukung, bakal kurang memahami kebutuhan divisi lain yang terlibat dalam operasi. Padahal, untuk menunjang kebutuhan dalam menghadapi kompetisi dan menangani pelanggan, perusahaan harus lebih awal mengetahui kebutuhan itu. “Dengan (memasukkan) TI di dalam operation, hal seperti ini sudah dapat dianalisis dan dideteksi sebelum munculnya kebutuhan,” ujarnya. Menurutnya pula, TI harus bisa menawarkan kemudahan proses dalam menghadapi kompetisi di pasar dan memberikan kemudahan bagi pelanggan, termasuk meningkatkan efisiensi dalam proses order.


Dijelaskan Paulus, karena bergerak di bidang distribusi, pengelolaan inventori merupakan hal yang sangat penting bagi grup usahanya. Dalam hal ini, GKL memanfaatkan modul inventori yang ada dalam software ERP (enterprise resource planning) yang digunakannya – Paulus enggan menyebutkan mereknya. Mulai dari perencanaan, barang datang dari pemasok, kemudian masuk ke gudang, didistribusikan ke gerai-gerai sampai terjual, merupakan suatu sistem yang terintegrasi. “Yang banyak kami tingkatkan adalah integrasi dari satu modul dengan modul lain, melalui interface yang baik dengan otorisasi yang sistematis,” ungkapnya.


Dalam implementasi TI-nya, GKL tidak fanatik dengan operation system (OS) tertentu, apakah itu Windows (Microsoft) atau Linux, melainkan lebih banyak memperhatikan fungsionalitas OS itu sendiri. “Kalau Windows (dinilai) lebih bermanfaat untuk suatu fungsi, akan kami gunakan Windows. Tapi, kalau Linux (dinilai) lebih sesuai dengan kebutuhan fungsi tertentu, kami akan gunakan open source itu,” ujar Paulus. Ia mengakui, di GKL kedua OS itu digunakan.


Namun, diakuinya pula, implikasi penggunaan dua OS yang berbeda tidaklah mudah. Pasalnya, ia harus memikirkan suatu interface dan cara agar dua platform itu dapat dipergunakan bersama, sehingga kelebihan masing-masing dapat dimaksimalkan.


“Saya melihat sistem TI di Kawan Lama sudah sangat sistematis. Kalau mereka mau mengimplementasi suatu solusi, tidak pernah serabutan, asal dianggap bagus langsung dipakai. Mereka sangat profesional. Namun, seperti apa sistemnya, saya tidak punya kapasitas untuk mengatakannya,” ujar eksekutif dari vendor sistem yang dipakai GKL, yang enggan disebut namanya.


Namun, sumber ini memastikan bahwa implementasi TI di GKL, baik di Kawan Lama Sejahtera (KLS) maupun Ace Hardware (AH), sudah terintegrasi dari hulu ke hilir: dari sistem distribusi hingga manajemen pelaporan. Bedanya, implementasi di KLS berbasis Linux, sedangkan di AH berbasis Windows. Bahkan, dalam penilaiannya, implementasi di AH ini terlengkap dan sudah terintegrasi. “Oleh karena itu, AH beroleh penghargaan dari Microsoft sebagai The Best Implementor,” ungkapnya. Sistem yang berbasis Linux (di KLS), juga disebutkannya, tak kalah bagus, karena sudah dijadikan benchmark oleh beberapa unit usaha lain, bahkan perusahaan lain.


Di masa depan GKL juga akan menerapkan sistem pemasaran secara online, khususnya untuk transaksi korporat (B2B). Dengan cara itu, diharapkan kebutuhan pelanggan secara spesifik dapat diketahui melalui Web, dan transaksi perdagangan pun bisa dilakukan lewat fasilitas ini. “Yang penting,” kata Paulus, “terintegrasi dengan sistem aplikasi yang digunakan, sehingga lebih efisien.”

sumber : http://id.inti.or.id/profilpilihan/19/tahun/2007/bulan/06/tanggal/02/id/262/

Wednesday, 23 June 2010

Polytron is the best 4 us

Teknologi Polytron selalu dapat menyaingi merk lain, bahkan suara 3D_nya yang membuat para pesaingnya bekerja keras untuk menyaingi merk yang handal ini.. Siapa yang menyangka kalau "Polytron" ini punya bangsa kita..

Photobucket


Selamat bersaing Indonesia

ION, brand komputer lokal yang canggih

Merk Komputer ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Perusahaan ini memproduksi komputer desktop dan laptop (notebook dan netbook). Kita bisa merasakan harganya yang begitu terjangkau, karena pajak yang tidak begitu besar karena dibuat di negara kita yang tercinta ini....

Photobucket

Web resminya ada di sini

Photobucket

Keren kan desainnya, tidak kalah kok dengan merk yang terkenal dengan desain2 motifnya, seperti ***** (sensor ni cuy)..

Bisa jadi kebanggaan Indonesia..
Tidak menjadi pembantu di rumah sendiri, ayo kita dukung dengan memakai produk2 Indonesia..

Tuesday, 13 April 2010

Mobil Buatan Indonesia

Mobil Murah dan Irit Buatan Indonesia


Mobil Made in Indonesia - GEA buatan PT INKA
Setelah memproduksi mobil Kancil yang kurang sukses karena jaringan pemasaran kurang baik, kali ini PT INKA akan membuat mobil nasional GEA seharga Rp 40-50 juta. Saya lihat perusahaan yang jadi pemasarnya di internet cuma mencantumkan alamat kantor. Tidak ada website, nomor telpon atau pun fax yang bisa dihubungi.
Mobil 650 cc ini bisa dilengkapi AC, kecepatan 85 km/jam, dan super irit karena 1 liter bensin bisa untuk 20-25 km.
Mobil Kancil buatan PT INKA
Mobil Kancil buatan PT INKA
Selain PT INKA, PT Kanzen juga akan membuat mobil meski agak mahal di harga Rp 80 juta.
Hebatnya lagi, Siswa SMKN 10 Malang berhasil membuat mobil yang diberi nama Esemka dengan harga sekitar Rp 80 juta. Sebelumnya, pak Masrah peneliti dari LIPI juga membuat mobil listrik yang diberi nama “Marlip.”
Semoga jaringan pemasaran dan servisnya kali ini lebih baik, kemudian semoga bank2 pemerintah bersedia membantu pendanaan, pejabat pemerintah menggunakan mobil tsb untuk ke tempat kerja, dsb.
Gambar Mobil EsemkaBayangkan jika di Indonesia pasaran kendaraan bermotor 1 juta, maka jika harga mobil umumnya Rp 100 juta, dengan memakai mobil GEA seharga Rp 50 juta bisa dihemat uang Rp 50 trilyun/tahun. Belum lagi biaya bensin yg 2 kali lebih irit.
Jika jadi, maka para pemakai motor pun bisa tertarik karena harganya tidak beda jauh serta lebih aman bagi anak-anak dan keluarga. Kemudian dengan bentuknya yang kecil, lebih lincah dari mobil biasa.
Namun PT INKA harus menggandeng SMK untuk jadi pusat perakitan dan service center. Bahkan jika perlu sebagai showroom dan tempat menjual mobil dengan menggaji 2-3 karyawan tambahan.
Selain itu ada juga mobil Arina-SMK yang 100% made in dalam negeri karena mesinnya juga buatan lokal. Dengan mesin motor 150cc-250cc konsumsi bensin hanya 1 liter untuk 40 km. Jadi betul-betul irit. Selain itu dengan panjang 2,7 meter, lebar 1,3 meter dan tinggi 1,7 meter, mobil ini bisa masuk ke dalam jalan dan gang yang sempit. Harganya sangat murah. Hanya sekitar Rp 24 juta.
Selain itu ada juga mobil off road Komodo dengan kapasitas 2 orang. Mobil ini konsumsi bahan bakarnya 1:25. Dapat melaju 40 km/jam di jalan berbatu dan 60 km per jam di jalan mulus. Harga sekitar Rp 50 juta.
Selain itu ada juga kendaraan UPV (Urban Personal Vehicle) yang mampu memuat hingga 4 penumpang. Mobil ini konsumsi BBMnya hanya 1:40. Harganya hanya Rp 30 juta. Sudah ada pesanan 300 unit dari Belanda, namun karena keterbatasan modal belum dapat dipenuhi. Seandainya pemerintah menyediakan Rp 6,7 trilyun untuk mengembangkan otomotif nasional sebagaimana pemerintah membail-out Bank Century, tentu industri otomotif Indonesia sudah berkembang. Lapangan kerja terbuka luas, dan masyarakat bisa beli mobil murah.
Silahkan baca berita selengkapnya dari Republika di:.
Tentu saja Mikrocar ini selain jaringan pemasaran (bisa menggunakan SMK) harus handal, layanan purna jual juga harus bagus agar masyarakat tidak kecewa. Fasilitas pembiayaan untuk kredit juga harus ada hingga masyarakat kecil bisa nyicil.
Selain mobil India Tata Nano, industri otomotif lainnya seperti Ford, Nissan, Renauld, Volkswagen, Toyota, Honda, dan Fiat juga akan bersaing memproduksi mobil mungil (Micro car). Oleh karena itu pemerintah harus cepat bertindak agar industri otomotif di Indonesia berkembang dan mandiri.

Tuesday, 6 April 2010

Nexian produk Handphone Indonesia?

Di zaman sekarang, Indonesia memiliki operator yang sangat beragam. Tidak hanya GSM saja yang bersaing tetapi juga CDMA. Munculnya operator dari Bakrie Telecom, Mobile 8 dan Smart Telecom membuat kertu CDMA tidak hanya pada Telkom dan dan Indosat saja yang tersedia. Begitu juga dengan GSM, banyak sekali operator, bikin ribet ya teman-teman?
Tapi kebanyakan dari operator-operator itu tidak memuaskan pelanggan, khususnya dalam tarif.Hal ini membuat banyak orang yang memakai multi kartu, yang satu untuk sms, yang satu untuk telpon, dan terkadang yang satu dikhususkan untuk internet. Ribetkan?
Akan tetapi handphone sekarang telah memiliki yang dual sim, malah ada triple sim, ya,,,, disesuaikan dengan selera masyarakat kita.
Salah satu merk yang banyak beredar adalah nexian, banyak orang yang tidak sadar bahwa handphond nexian yang ia pakai adalah buatan anak bangsa kita sendiri..
Bila ingin melihat produknya, silahkan klik link ini

Cintailah produk negeri